Menanggapi kebijakan terbaru pemerintah terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai program Merdeka Belajar. Apalagi setelah peleburan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, menjadi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. PB Aryatmoko menjelaskan kajian tentang pendidikan.
Program Merdeka Belajar yang dikeluarkan oleh Bapak Menteri Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang hanya mengejar pada kualitas pendidikan saja tanpa adanya pemerataan pendidikan adalah suatu hal yang tidak imbang. Karena mengejar kualitas hanya akan mengangkat kualitas sebagian kecil siswa saja. Tanpa adanya pemerataan pendidikan, maka program pemerataan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat tidak akan bisa diimbangi. Permasalahan sosial akan selalu muncul terus menerus dari generasi ke generasi. Sementara pembangunan akan terus berjalan tetapi manusianya akan tetap tertinggal.
PB Aryatmoko selaku pendiri Ngaji Marhaenisme mengatakan pendapatnya mengenai berbagai macam masalah yang ada di dunia pendidikan dan berusaha menjelaskannya dengan sudut pandang Marhaenisme. PB Aryatmoko atau biasa disapa dengan sebutan Bung Moko membagi pendidikan menjadi 2 hal:
1. Pendidikan tentang kehidupan.
Yaitu sebuah pendidikan yang mengajarkan hal-hal penting dalam kehidupan seperti dengan pendidikan dasar mengenai cara bertahan hidup, mendapatkan penghasilan, pengetahuan untuk dapat menjadi manusia yang baik dan berguna bagi sesama.
“Nilai akademik itu tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan itu. Tetapi pendidikan itu belum berakhir. Mereka yang mengabdikan diri sesuai keilmuannya kemudian menjadi bermanfaat bagi sesama merupakan harapan bersama.”
“Pendidikan itu harus mengajarkan kita hal-hal yang paling penting dalam kehidupan seharusnya. Pendidikan itu harus selayaknya adalah bermanfaat bagi kehidupan kita.” - PB Aryatmoko.
2. Pendidikan tentang pengetahuan / knowledge
Pendidikan yang mengajarkan mengenai pengetahuan umum seperti pelajar-pelajar sekolah mulai dari matematika hingga ilmu kealaman. Menurut PB Aryatmoko merupakan sebuah pendidikan yang tidak terlalu signifikan untuk diajarkan kecuali bagi mereka yang berkenan dan tertarik untuk belajar pengetahuan tersebut.
“Namanya pengetahuan ya penting-penting ga penting. Karena tidak tahu apa-apa ya tidak masalah sih. Misal bisa makmur dan kaya. Punya apa-apa tapi tidak tahu apa-apa tidak masalah.” kata Bung Moko.
Tanggapan Terhadap Merdeka Belajar
Program Merdeka Belajar menekankan pada 8 poin-poin penting yang terdiri dari: Pertama KIP Kuliah dan KIP Sekolah, kedua Digitalisasi Sekolah, ketiga yaitu adalah Prestasi dan penguatan karakter, keempat Guru Penggerak, kelima Kurikulum Baru, keenam Revitalisasi pendidikan vokasi, ketujuh Kampus Merdeka sebagai peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Kedelapan Pemajuan Kebudayaan dan Bahasa (Kompas.com).
Bung Moko mengatakan bahwa adanya Merdeka Belajar sangat bagus untuk mengembangkan kualitas pendidikan karena menurutnya pengetahuan adalah sebuah kekuatan.
“Pengetahuan adalah kekuasaan atau knowledge is power, karena dengan pengetahuan kita punya kuasa atas banyak hal terutama penguasaan kita terhadap alat dan sosial.” kata PB Aryatmoko.
Meskipun begitu Bung Moko menggap bahwa pengetahuan adalah no 2 saja dan bukan sesuatu yang utama. Pendidikan yang utama menurut Bung Moko adalah pendidikan karakter. Terutama dengan mengedepankan Pancasila sebagai sumber pendidikan karakter bangsa kita.
“Kalau kita belajar Pancasila, kalau kita belajar Marhaenisme. Marhaenisme itu merupakan teori ekonomi politik yang akan memberi kita frame untuk kita mencapai kemakmuran. Jadi, sangat sayang kalau kita belajar tetapi di kemudian hari tidak memberi dampak kepada kita.” ujar Bung Moko.
Kritik terhadap dunia pendidikan juga disampaikan oleh Bung Moko terutama dalam hal komersialisasi pendidikan di mana pendidikan hadir hanya untuk mendapatkan keuntungan finansial saja seperti dengan adanya biaya pendidikan yang tinggi sementara kemampuan membayar bagi para peserta didik tidak mencukupi. Meskipun begitu Bung Moko tidak terlalu mempermasalahkan.
“Banyak sekolah yang mengambil untung dari pendidikan. Walaupun hal tersebut tidak salah. Karena memang pendidikan itu mahal.”
Hal ini membuat Bung Moko bertanya-tanya mengenai perguruan tinggi negeri dengan adanya UKT yang mahal pasti ada yang tidak sanggup untuk membayar. Hal ini yang disebut Bung Moko dengan komersialisasi pendidikan. “Dosen gaji tinggi, mahasiswa bayar rendah, pembiayaannya gimana?” pertanyaan ini dilontarkan Bung Moko kepada pemerintah karena menganggap tidak adanya keadilan bagi mahasiwa yang tidak mampu dan tidak terserap kepada program-program beasiswa.
“Saya berharap kepada pemerintah tidak melanggengkan kebodohan.” - PB Aryatmoko
Kemudian Bung Moko juga berpesan kepada pemerintah agar tidak melanggengkan kebodohan. Karena menurutnya pendidikan adalah hak semua warga negara Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka kran pintu masuk bagi semua calon pendaftar kampus-kampus negeri termasuk kepada calon peserta didik yang memiliki kemampuan akademik rendah. Sehingga dengan adanya hal tersebut dapat membantu meningkat mutu kualitas peserta didik siapapun itu menjadi lebih baik lagi.
“Pendidikan selalu mengalami dilema, tetapi harus ada perhatian khusus dari pemerintah untuk tidak berkontribusi terhadap melanggengkan pembodohan. Meskipun bodoh secara akademis tidak ada jaminan akan membuat hidup seseorang menjadi sengsara.”
Pemerintah menurut Bung Moko harus lebih peduli kepada orang yang tidak mampu secara akademis, soalnya orang yang kurang secara akademis ketika diajar oleh dosen yang tidak berkualitas, maka akan langgeng terus ketidakmampuan akademisnya. Sehingga menurut dia kesamaan hak dalam pendidikan itu harus dibuka terutama pendidikan oleh negara.
Sumber:
Mendikbud Nadiem: 8 Program Prioritas Merdeka Belajar di Tahun 2021 Kompas.com - 06/01/2021, 06:53 WIB




"membebaskan bangsa dari penjajah melalui pendidikan" kutipan penting yang harus di pahami pada era sekarang
BalasHapus